By | 3 Desember 2020

Ini kisah tetang seorang ibu rumah tangga, yang masa kecilnya dari keluarga sangat miskin dan broken home. Nama orang hebat ini adalah Heni Sri Sundani. Kedua orang tuanya bercerai saat ia masih bayi, sehingga ia diasuh oleh neneknya. Neneknya sendiri tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Sementara ibunya pernah bersekolah hingga kelas 5 SD namun tidak selesai. Meskipun neneknya tidak pernah sekolah, namun dari neneknya lah ia belajar banyak hal tentang nilai-nilai kehidupan yang positif.

Heni kecil hidup dalam serba kekurangan, tidak pernah punya beras lebih dari untuk makan sehari itu. Saat usia SD, anak-anak seusianya bisa main sepeda sepuasnya, untuk belajar naik sepeda ia “harus” mendorong temannya bermain sepeda selama satu hingga dua jam dan harus puas hanya dapat pinjaman sepeda lima menit saja. Perjuangannya untuk mendapatkan pendidikan lebih berat lagi. Tiap hari ia harus berjalan 2 jam pulang pergi dengan berjalan kaki dari rumah ke sekolah. Memasuki SMP, lokasi sekolah lebih jauh lagi, setiap hari ia harus berjalan kaki pulang pergi ke sekolah selama 4 jam. Semua kesulitan dan beratnya beban hidup tidak membuatnya menyerah, bahkan semakin besar mimpi yang ingin ia wujudkan.

Berhasil menyelesaikan SMP, ia memilih bersekolah di SMK. Agar bisa terus sekolah hingga tamat, ia bekerja serabutan mulai dari menjadi asisten rumah tangga, berjualan jilbab, hingga menawarkan jasa mengetik kepada teman-temannya. Akhirnya ia pun bisa selesai SMK. Setamat dari SMK, ia masih bertekad kuat untuk meneruskan pendidikan ke jenjang universitas. Ia bercita-cita menjadi seorang guru. Lagi-lagi biaya menjadi halangan terbesar. Ia pun membuat keputusan mengejutkan dengan menjadi TKW sebagai babysitter di Hong Kong.

Selama dua tahun bekerja di majikan pertama, ia ternyata hanya digaji setengah dari kontrak kerja yang ditanda tanganinya. Sehingga saat itu ia hanya bisa menempuh D3 jurusan IT di Topex Hong Kong. Kemudian ia bekerja dengan majikan kedua dan mendapatkan gaji penuh sesuai dengan perjanjian kerja. Akhirnya ia bisa melanjutkan lagi pendidikannya ke jenjang S1 di St. Mary’s University, Hong Kong, jurusan manajemen kewirausahaan. Bahkan ia menjadi lulusan terbaik di kampusnya di tahun 2011.

Menjadi sarjana pertama di kampung, membuat hatinya terpanggil untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Ia membawa 3.000 buku dari Hong Kong. Di sana ia mendirikan perpustakaan di rumah ibunya. Tawaran bekerja pada perusahaan multinasional ia lepaskan.

Anak-anak di kampungnya pun banyak yang tertarik untuk bermain ke rumah Heni sepulang sekolah. Mereka membaca buku gratis dan diajarkan menggunakan laptop, komputer, mengerjakan PR, atau mengaji. Di sela kesibukannya membuat program sosial kemasyarakatan, ia masih menyempatkan diri untuk melanjutkan studi S2 mengambil jurusan magister manajemen di Universitas Bumi Putera dan berhasil lulus di tahun 2016.

Ia juga sering diundang untuk mengisi berbagai macam pelatihan di sekolah atau kampus yang membuatnya bertemu Aditia Ginantaka, yang menjadi suaminya sekarang. Sang suami adalah seorang pegiat sosial yang bekerja di Dompet Dhuafa dan aktif di Sekolah Guru Indonesia. Setelah menikah, ia pindah ke Kampung Sasak di Bogor mengikuti suaminya. Ternyata keadaannya juga tidak jauh berbeda dengan kampungnya di Ciamis yang sama-sama memprihatinkan. Banyak anak yang masih telanjang kaki, baju bolong, putus sekolah, dan lain-lain.

Ia dan suaminya lantas menggagas Gerakan Anak Petani Cerdas untuk menjembatani anak-anak petani untuk menggapai mimpi besar mereka. Bermodalkan Rp 100.000,00 ia membeli alat tulis, biskuit, dan susu dan mengumpulkan anak-anak di hari sabtu dan minggu untuk belajar gratis di pelataran kontrakannya. Awalnya hanya ada 15 anak yang terlibat, tapi lambat laun bertambah. Mereka tidak hanya dari Kampung Sasak tapi juga dari kampung-kampung lainnya. Rumah kontrakannya sampai tidak cukup untuk menampung anak-anak ini.

Berdasarkan pengalamannya di luar negeri, ia memberikan pengalaman belajar yang berbeda untuk anak-anak. Ketika mengajar bahasa Inggris, ia mendorong anak-anak untuk berbicara, bukan hanya mencatat saja. ketika mengajar menyanyi, ia juga menyelipkan inspirasi untuk memotivasi anak-anak.

Beberapa waktu kemudian, ia diizinkan untuk menggunakan mushala yang sudah tidak digunakan lagi sebagai tempat belajar anak-anak yang bisa menampung 100-200 anak-anak petani yang ingin belajar. Fasilitas tempat belajar yang terbatas membuatnya tergerak untuk memanfaatkan media sosial untuk mencari donatur. Dari sana, mulai berdatangan sumbangan aneka peralatan mengajar, seperti papan tulis, alat tulis, buku, hingga koran. Selain itu, tenaga sukarelawan mulai berdatangan meski hanya datang sekali-sekali.

Dari Gerakan Anak Petani Cerdas, Heni dan Aditya membuat AgroEdu Jampang Community untuk mewadahi para petani dan keluarganya supaya kesejahteraan keluarga petani lebih terangkat. Komunitas ini memiliki empat program besar yaitu program pendidikan, pemberdayaan ekonomi, kesehatan, dan sosial dakwah. Gerakan Anak Petani Cerdas digolongkan ke dalam program pendidikan komunitas tersebut. Ia juga membina sebuah pesantren di Cigombong yang sebagian santrinya anak-anak buruh tani miskin.

Agar program bisa terus berlanjut, ia mencarikan beasiswa supaya anak-anak bisa mengenyam pendidikan hingga ke jenjang tinggi. Mereka inilah yang diharapkan akan melanjutkan gerakan berbagi ilmu dan dan pengetahuan. Harapan Heni sendiri gerakan yang digagas bersama sang suami nantinya bisa mengentaskan kemiskinan, terutama dari kalangan keluarga petani yang sering dianggap sebagai profesi yang kurang menguntungkan.

Di tahun 2017, Heni membentuk Yayasan Empowering Indonesia Foundation. Yayasan ini dibentuk karena dorongan para donatur yang 80 persen berada di luar negeri. Dengan bentuk yayasan, penerima manfaat gerakan cerdas bisa meluas hingga ke daerah-daerah lain di Indonesia. Sociopreneur ini telah menerima beberapa penghargaan, baik nasional maupun internasional antara lain, HER Times Awards Singapura 2018, Forbes Summit Manila Philippina 2017, 30 Under 30 Forbes Asia 2016, Top 300 Young Leader Asia versi Forbes 2016, dan Tokoh Inspiratis Indonesia 2015.

Quotes:

  • Saya tidak takut miskin saya pernah lama menjadi orang miskin. Saya tidak takut tidak punya uang, karena saya sudah sering tidak punya uang sama sekali.
  • Saya memberi bukan karena saya punya banyak. Tetapi karena saya tahu bagaimana rasanya tidak punya.

Profil:

  1. Tempat/tanggal lahir: Ciamis, 02-05-1987
  2. Keluarga:
    — Suami: Adita Ginantika
  3. Pendidikan:
    — SD Lulus
    — SMP,Lulus
    — SMK Lulus
    — Entrepreneurial Management di Saint Mary’s University Hong Kong (2009)
    — Magister Management di Bumiputera School of Business (2016)
  4. Karier:
    — TKW Hong Kong (2005-2011)
    — Pendiri Komunitas Gerakan Anak Petani Cerdas
    — Pendiri AgroEdu Komunitas Jampang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *