Laman internet pertama yang kubuka pagi ini adalah Lumpur Panas Lapindo (hotmudflow[dot]wordpress[dot]com). “Ratusan warga korban lumpur dari Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perum TAS) I nekat bertahan di Jakarta. Mereka tetap melakukan aksi untuk menuntut ganti rugi cash and carry 100 persen. Padahal, sejumlah pihak bermaksud meminta mereka pulang“.

Trenyuh dan duka kembali membungkus perasaan. Sama seperti yang kurasakan ketika pulang kampung ke Sidoarjo bulan Pebruari 2007 kemaren. Kenangan pada rumah, masjid Al-Muhajirin, Pak Altus (sang ketua RT yang sangat mbelani rakyatnya), para tetangga (Pak Yatno, Pak Said, Pak Kris, dll) dan teman-teman takmir masjid, juga Yayasan Ishlahul Ummah dengan TK Tunas Cendekianya.

Rumah sudah hilang tinggal atapnya saja. Masjid entah bagaimana kondisinya. Halaman rumah yang asri dan sederhana, tempat aku bersama isteri dan anak-anak bermain dan bercengkerama sore hari sambil makan nasi duduk ditikar yang di gelar di atas tanah.

Pagi ini aku sedang ingin menikmati nostalgia di sebuah rumah (yang belum lunas cicilannya) yang sempat kutempati bersama keluarga lebih kurang 3 tahun. Ya, tiga tahun. Bukan waktu yang pendek untuk merangkai kenangan. Sebuah masa lalu yang, kurasa, cukup pantas untuk dikenang.

Sebagaimana dulu, juga Rasulullah Muhammad saw pernah berkata kepada kota Mekkah (tempat beliau lahir dan besar) “Seandainya bukan karena kaumku sendiri yang mengusirku dari sini, tentulah aku akan tetap tinggal di sini”.

Seandainya bukan karena kecerobohan dan keserakahan, tentulah warga Perum TAS I masih tetap menikmati keindahan rumah kredit mereka. Tentulah mereka tidak perlu nglurug ke Jakarta untuk menuntut haknya.

Kenyataan memang pahit, namun yang lebih penting adalah bagaimana menyikapi kepahitan ini dengan optimisme. Semoga ada kemudahan setelah kesulitan-kesulitan yang datang.

Tinggalkan Balasan