By | 13 Oktober 2021

(Dikutip dari Republika online publikasi Rabu 13 Oktober 2021 pukul 09.22 WIB)

Mengejutkan, gara gara koin Dinar dan Dirham, Zaim Saidi ditahan sebagai tersangka sejak 2 Februari 2021. Kasusnya menjadi viral baik di Indonesia maupun di luar negeri. Dan alhamdulilah kemarin (12 Oktober 2021) melalui proses peradilan, Pengadilan Negeri di Depok membebaskannya.

Kasus tersbeut, menjadi teringat pada sebuah peristiwa pada delapan tahun lalu, pada 16 Oktober 2013. Kala itu saya bersama Zaim Saidi berbicara di seminar “Dinar Emas Sumatera Dalam Bingkai Sejarah” di Ruang Sidang A Gedung Pusat Administrasi (Biro Rektor) Universitas Negeri Medan.

Acara yang dibuka oleh Wakil Rektor 1 Unimed waktu itu, Prof. Khairil Anshari dimoderatori oleh Tikwan Raya Siregar, eks mahasiswa saya di Antropologi Sosial Pasca Sarjana Unimed. Dalam kegiatan itu sejumlah koin emas dan perak kuno koleksi saya turut dipamerkan berdampingan dengan koin dinar dirham moderen yang diproduksi komunitas Zaim Saidi.

Sejumlah transaksi dagang muamallah menggunakan koin dinar dirham juga berlangsung dalam bazar dan pameran di lantai tiga biro rektor Unimed itu. Tidak ada yang ditangkap. Agaknya inilah seminar pertama tentang dinar dan dirham dalam perspektif masa lalu dan masa kini yang dilakukan di Universitas di Indonesia.

Harta karun arkeologi Islam

Saya dalam seminar tahun 2013 di Unimed itu mengulas temuan temuan numismatik terkait emas dan perak yang dipakai raja raja Islam berabad abad lamanya di Indonesia, mulai dari Pasai di Aceh sampai ke raja Gowa di Sulawesi. Waktu itu situs Bongal, Desa Jago Jago Tapanuli Tengah sebagai situs yang menyimpan deposit koin emas dan perak era Umayyah dan Abassiah, belum ditemukan.

Situs yang mengejutkan sejarah Islam tersebut baru ditemukan sejarahwan pada tahun 2020 berkat jasa para penambang emas tradisional. Situs ini jadi perbincangan sejak pertama kali para penambang membawa koin koin Umayyah dan Abassiah dalam jumlah sangat banyak ke Museum Uang Sumatera pada akhir tahun 2019.

Kepala Museum Uang, bapak Syafaruddin Barus mengontak saya dan memposting di media sosial temuan yang dikirim para penambang emas tradisional itu. Waktu berlalu, berbagai analisis permulaan dilakukan, kesimpulan nya satu:ini koin zaman Umayaah tiga belas abad yang lalu.

Saya penasaran dengan koin yang terus mengalir ke Museum Uang Sumatera itu. Maka saya datangi situsnya pada bulan Januari 2020. Di sana saya lihat kenyataan adanya lobang lobang penggalian para penambang sedalam 3-4 meter. Tempat mengalirnya koin era Umayyah dan Abassiah berdampingan dengan ribuan artefak Timur Tengah, China dan India abad ke 7 – 10.

Kemudian saya buka arsip lama, ternyata tahun 2001 Balai Arkeologi Medan pernah lewat sini untuk melihat Arca Budha di dekat bukit Bongal. Mereka saat lewat itu tidak menduga bahwa tanah yang mereka lewati itu menyimpan deposit harta karun arkeologi Islam yang mengguncangkan.

Maka sejarah harus berterimakasih pada penambang emas tradisional yang tidak sengaja menemukan situs dahsyat yang ratusan tahun mendahului situs Barus ini. Para penambang sebenarnya bukan ingin mencari artefak sejarah, mereka mencari butiran pasir emas yang banyak terdapat di situ. Artefak sejarah baru belakangan merdeka temukan saat penggalian mereka semakin dalam.

Saya ragu situs ini semakin hancur dan temuan koin emas yang dijual penambang ke toko emas sekitar kota Pandan dan Sibolga jejak sejarah tak ternilainya telah musnah dilebur menjadi perhiasan modern.

Situs Bongal Butuh Penyelematan

Saya pun sudah hubungi Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid untuk memperhatikan situs ini. Saya juga kontak teman di Balai Arkeologi untuk lakukan eskavasi. Tapi mentok, tidak ada dana Balai Arkeologi untuk eskavasi, Begitu juga tidak ada dana BPCB juga dana instansi kebudayaan tingkat Kabupaten untuk selamatkan.

Saya paham lazimnya memang negara, biasa, berjalan lambat dibanding ancaman kehilangan dan kehancuran situs situs yang ditemukan masyarakat. Saya mendesak terus Hilmar Fariz dan Fitra pejabat di Direktorat Kebudayaan untuk menurunkan Team ke Bongal.

Dan memang dari BPCB turun. Tapi setahun ini baru tahap sekedar lihat-lihat saja dan belum lakukan aktion. Pak Hilmar Fariz mengontak kepala Museum Nasional untuk turun menyelamatkan artefak. Tapi Covid-19 menyebabkan ibu Sri Hartini selaku plt Kepala Museum Nasional yang menghubungi saya hampir setahun yang lalu, belum bisa turun. Akhirnya sampai sekarang koin Umayyah dan Abassiah belum diselamatkan dan dikoleksi Museum Nasional, juga tidak ada di Museum Negeri Sumut.

Berita tentang dinar dirham situs Bongal yang diposting Museum Uang Sumatera terus mengalir dan menggugah peneliti numismatik Islam. Dr Nurman Kholis datang meneliti dan melakukan FGD di Museum Uang Sumatera lewat bendera Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI Jakarta tempat Nurman bekerja.

Kemudian, terjadi pembahasan akademis pertama tentang temuan koin Umayyah dan Abassiah situs Bongal. Ini pertama kali dilakukan di ruang seminar Museum Uang Sumatera dalam FGD pada tanggal 6 Agustus 2020 dengan narasumber Nurman Kholis dari Kemenag Jakarta, sejarahwan Numismatik Syafaruddin Barus yang sekaligus Kepala Museum Uang Sumatera, Ery Sudewo dari Balai Arkeologi, dan saya dari Unimed.

Entah karena kebetulan, FGD ini sama dengan seminar 2013 di Unimed, yang dimoderatori lagi oleh Tikwan Raya Siregar selaku aktivis Dinar Dirham bertahun tahun lamanya. Nurman selama penelitian di Sumut lakukan serangkaian wawancara, dan mengaku kecewa ketika mendapat respons minor dari kepala pejabat berkompeten yang bukan Islam, yang awalnya meragukan otentisitas koin itu ditemukan di Bongal.

Walau belakangan yang bersangkutan itu tampil tak bisa membantah dan mengamini jejak Islam abad pertama hijriyah di situs Bongal. Penelitian Nurman dkk yang sampai menjelajah ke kawasan Sei Musi Palembang ini dituangkan dalam tulisan bertajuk “Koin : Studi Awal Kajian Numismatik Dalam Penyebaran Islam dari Arab ke Nusantara”, merupakan kajian temuan koin era Umayyah dan Abassiah situs Bongal yang pertama terbit dalam bentuk buku (2020)

Hikmah penahanan dan pembebasan Zaim Saidi ini bagaimana pun akan membawa angin segar pembahasan dan penyelamatan situs dan artefak di Bongal itu. Bahkan ini tidak hanya terkait sejarah dinar dirham tapi juga relasi sejarah Islam di Indonesia yang terbukti sejak abad pertama hijriyah.

*Dr. Phil. Ichwan Azhari. Sejarawan, pengajar, dan ahli filologi Indonesia. Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Sumatra Utara. Ichwan juga dipercaya sebagai Ketua Asosiasi Museum Indonesia Sumatra Utara.


Link sumber:
https[:]//www.republika.co.id/berita/r0w999385/kebebasan-zaim-saidi-dan-penulisan-sejarah-umat-islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *