Aku Butuh Kekuatan Cinta

1 April 2015

Seperti hari-hari sebelumnya, sore itu turun dari KRL Jabodetabek segera kugesa langkah menuju musholla kecil di sudut stasiun. Waktu sudah beranjak mendakati Isya, namun antrian orang berwudlu masih panjang. Harap-harap cemas, khwatir Isya segera tiba. Ukuran musholla yang sangat mungil tidak sebanding dengan ratusan penumpang KRL yang turun di stasiun ini. Akibatnya sholat Maghrib di sini bisa sampai lima gelombang, bahkan pernah sampai adzan Isya ada penumpang yang belum kebagian giliran sholat Maghrib.

Alhamdulillah, akhirnya dapat menyelesaikan sholah Maghrib tepat satu menit menjelang adzan Isya. “Sekalian saja menunggu sholat Isya”, bisikku dalam hati. Benar saja, tak lama kemudian terdengan suara adzan Isya dari masjid seberang stasiun. Selesai adzan langsung terdengar suara iqomah dari anak muda yang tadi duduk disebelahka sehabis sholat Magrib. Selsai sholat Isya, hati lega luar biasa. Meskipun bacaan imam amburadul tajwid dan makhrajnya, namun tetap saja perasaan tenang selalu muncul selepas melaksanakan sholat berjamaah.

Dengan langkah ringan kuayun kaki keluar meninggalkan area stasiun menuju rumah. Terbayang kejadian rutin yang selalu kurindukan di rumah sepulah kerja, Samiyya anak gadisku yang paling kecil akan berteriak “ayah pulang” sambil berlari keluar rumah menyongsong kedatanganku. Tak ketinggalan kalimat-kalimat cerita mengalir deras dan cepat dari bibirnya, sambil sekali-sekali diulang seakan khawatir aku tidak menyimaknya.

Tiba-tiba terdengar suara pelan seorang wanita paruh baya, membuyarkan lamunanku. Meskipun pelan seperti orang bergumam, namun suaranya jelas mampu menyentak hatiku. “Tolong Pak”, gumamnya sambil mengembangkan telapak tangan kanannya ke arahku. Aku berhenti sejenak, meraba saku celana kiriku. Aku ingat persis di dalamnya ada uang lima ribuan dua lembar dan selembar dua puluh ribuan serta satu koin lima ratusan. Masih gamang hatiku menimbang, apakah akan memberi uang koin atau uang lima ribuan. Terlintas rasa malu, saat akan merogoh kantong mencari uang koin lima ratusan. Tetapi muncul rasa berat untuk mengambil selembar uang lima ribuan. Terbayang masih harus melewati beberap hari lagi untuk menutup bulan ini. Dalam beberapa detik kebimbangan, wanita itu ternyata telah berlalu melanjutkan perjuangannya mengharap dari orang-orang yang lalu lalang di depan stasiun.

Kini muncul penyesalan, mengapa tidak segera kuberikan uang kepadanya. Berapapun yang kuberikan, dia pasti akan menerimanya dengan perasaan senang. Sungguh bodohnya aku! Ternyata aku masih miskin, masih sangat sedikit cinta yang kumiliki. Aku masih mencintai diriku sendiri, egois. Padahal Allah Ta’ala mencintai semua makhluk-Nya. Dia jamin rizki setiap hamba-Nya. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam begitu mencintai ummatnya, hingga beberapa detik sebelum ajal beliau masih sangat khawatir dengan kondisi ummatnya.

Ternyata aku belum memiliki kekuatan cinta, sebagaimana yang diajarkan Allah Ta’ala melalu rasul-Nya yang mulia. Allahummaghfirliy.

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.