Archive for : April, 2013

Konfigurasi Network di CentOS

Berikut adalah catatan kecil saya saat mengaktifkan network ethernet di Linux CentOS, dan mestinya cara yang sama juga dapat dipakai di distro-distro linux lainnya.

Edit file “/etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0”, sehingga isnya menjadi seperti berikut:

DEVICE=”eth0″ (yang ini tidak perlu diedit)

HWADDR=”08:00:27:FF:BF:9F” (yang ini tidak perlu diedit)

NM_CONTROLLED=”yes” (yang ini tidak perlu diedit)

ONBOOT=”yes” (yang ini tidak perlu diedit)

TYPE=”Ethernet” (yang ini tidak perlu diedit)

BOOTPROTO=”dhcp” (opsinya adalah dhcp atau static)

#Apabila BOOTPROTO menggunakan opsi static, berikut ini contoh konfigurasinya:

#BOOTPROTO=”static”

#IPADDR=”192.168.1.3″

#NETMASK=”255.255.255.0″

#GATEWAY=”192.168.1.1″

 Semoga bermanfaat.

Berbagi Folder Dengan Samba

Selamat siang semua.

Hari ini saya ingin berbagi sedikit pengalaman dalam mengkonfigurasi Samba untuk keperluan Share Folder di Linux. Saat ini saya menggunakan distro Fuduntu. Rekan-rekan yang pengin tahu apa itu Fuduntu silahkan lanjut baca posting saya yang ini.

Sedikit info: Samba adalah suatu paket di linux yang berfungsi untuk menjembatani (membuat koneksi) antara mesin Linux dengan mesin Microsoft Windows. Dengan samba kita bisa melakukan berbagi pakai folder maupun berbagi pakai printer lewat jaringan. Ok, langsung saja ke TKP!

01. Yang harus dilakukan pertama kali tentu saja menginstall paket samba ūüôā

02. Buat user baru (yang akan digunakan untuk mengakses share folder lewat samba).

juwarto@localhost ~ $ sudo useradd samba

juwarto@localhost ~ $ sudo passwd samba

Changing password for user samba.

New password:

Retype new password:

02. Tambahkan user tersebut ke dalam Samba (menjadi usernya Samba).

juwarto@localhost ~ $ sudo smbpasswd -a samba

New SMB password:

Retype new SMB password:

Saran saya: sebaiknya gunakan password yang sama antara User Samba dengan User Linux-nya agar tidak lupa.

03. Buat direktori yang akan dijadikan Share Folder, misal di “/home/joeshares”.

juwarto@localhost ~ $ sudo mkdir /home/joeshares

04. Ubah permission “/home/joeshares” agar bisa dibaca-tulis oleh owner dan group, sedangkan other hanya baca saja.

juwarto@localhost ~ $ sudo chmod 775 /home/joeshares

05. Buat group user, misal “bersama”. User-user dalam group ini nanti yang bisa baca-tulis di folder “/home/joeshares”.

juwarto@localhost ~ $ sudo groupadd bersama

06. Tambahkan username “samba” menjadi anggota group “bersama”.

juwarto@localhost ~ $ sudo gpasswd -a samba bersama

07. Edit file “/etc/samba/smb.conf” dan tambahkan di bagian paling bawah konfigurasi berikut:

# Shared Directory Punya Mas Juwarto

[incoming]

comment = Public Stuff Incoming

path = /home/joeshares/incoming

public = yes

writable = yes

printable = no

browseable = yes

guest ok = yes

[outgoing]

comment = Public Stuff Outgoing

path = /home/joeshares/outgoing

public = yes

writable = no

printable = no

browseable = yes

guest ok = yes

08. Pastikan pada bagian [homes] dikonfigurasi seperti berikut:

[homes]

browseable = no

writable = no

guest ok = no

public = no

09. Restart service samba:

juwarto@localhost ~ $ sudo /etc/init.d/smb restart

10. Coba akses share folder dari mesin MS-Windows.

Semoga bermanfaat.

Mematikan Zombie Process

Berikut adalah langkah-langkah untuk mematikan zombie process di linux.

Mencari Zombie Process

juwarto@localhost ~ $ ps axef

  • Opsi “ef” akan menampilkan process (family) tree.
  • ¬†Berikut adalah contoh yang dihasilkan oleh command di atas:

PID     TTY   STAT   TIME    COMMAND

2         ?        S          0:00      [kthreadd]

3         ?        S          0:00      \_ [ksoftirqd/0]

4         ?        S          0:00      \_ [kworker/0:0]

5         ?        S<        0:00      \_ [kworker/0:0H]

7         ?        S<        0:00      \_ [kworker/u:0H]

1         ?        Ss        0:00      /sbin/init

581    ?        Ss         0:00      /sbin/udevd -d

805    ?        S           0:00      \_ /sbin/udevd -d

806    ?        S           0:00       \_ /sbin/udevd -d

1076  ?        Ss         0:00      /usr/bin/system-setup-keyboard

1143  ?        Sl          0:00      /sbin/rsyslogd -c 4

1160  ?        Ss         0:00      irqbalance

1182 ¬†? ¬† ¬† ¬† ¬†Ss ¬† ¬† ¬† ¬† 0:00 ¬† ¬† ¬†dbus-daemon –system

1196 ¬†? ¬† ¬† ¬† Ssl ¬† ¬† ¬† ¬† 0:00 ¬† ¬† ¬†NetworkManager –pid-file=/var/run/NetworkManager/Net

1944  ?       Z+          0:00      \_ /sbin/dhclient -d -4 -sf /usr/libexec/nm-dhcp-cli

1200  ?       S            0:00      /usr/sbin/modem-manager

1205  ?       Sl           0:00      /usr/libexec/polkit-1/polkitd

  • Pada kolom STAT, cari yang bertanda Z+. Dari contoh di atas terlihat PID 1944 dalah zombie.

Membunuh Zombie Process

juwarto@localhost ~ $ sudo kill -9 1944

  • Apabila zombie process tidak berhasil dibunuh, coba cari parent process-nya. Kill parent process dari zombie process tersebut, maka insyaallah zombie process akan mati.

Semoga bermanfaat.

Fuduntu

Secara singkat, Fuduntu bertujuan untuk menggabungkan antara Fedora dan Ubuntu. Ini berarti seperti Fedora, ia menggunakan RPM dan fokus pada software canggih (selama tidak mempengaruhi stabilitasnya) dan seperti Ubuntu, ia diupayakan agar mudah digunakan dan masih mempertahankan desain estetis (tanpa mengorbankan kinerja).

Fuduntu adalah distribusi Linux ringan dan menyenangkan. Tujuan diciptakannya Fuduntu adalah untuk memberikan sebuah pengalaman estetis kepada pengguna dengan aplikasi up-to-date yang membuat Fuduntu sangat cocok untuk desktop, laptop, ataupun netbook.

Para pengguna Laptop dan Netbook akan senang mengetahui bahwa Fuduntu dioptimalkan untuk komputasi di mana saja dan menyediakan alat untuk membantu mencapai masa hidup baterai secara maksimum ketika untethered. Perpanjangan waktu hidup baterai bisa mencapai 30% atau lebih dibanding distribusi Linux lainnya.

Manfaat besar lainnya adalah bahwa Fuduntu adalah distribusi rolling release. Setelah menginstal dari media rilis (kuartalan), pengguna tidak perlu khawatir tentang menginstal ulang lagi dalam beberapa bulan untuk mendapatkan keuntungan dari perangkat lunak terbaru yang tersedia.

Latar Belakang

Proyek Fuduntu dimulai pada 2010 oleh Andrew Wyatt (fewt). Dia bereksperimen dengan paket “power saving” untuk linux yang populer bernama Jupiter. Seperti halnya dengan banyak distro Linux, proyek ini secara bertahap menarik pengikut, dan telah berkembang menjadi seperti sekarang ini. Kekuatan utamanya adalah kecepatan pada mesin yang lebih tua atau terbatas, penggunaan sumber daya yang rendah pada semua mesin, dan dampaknya terhadap daya tahan baterai untuk laptop dan netbook.

Distro Apakah Ini

Fuduntu tidak berasal dari Ubuntu, juga bukan sebuah distro berbasis Debian. Ia mulai dibangun dari Fedora-14 distro berbasis RPM, dan pada musim gugur 2011 berpisah dari Fedora. Sementara beberapa pihak telah membandingkannya dengan Ubuntu di masa lalu, perbandingan tersebut lebih didasarkan pada penampilan dan kemudahan pengguna, daripada kode aktual. Satu-satunya lingkungan desktop yang didukung adalah Gnome 2 (saat ini Gnome 2.32).