Archive for : November, 2011

Avasin Biomedik Modern

Di dalam dunia kedokteran, sesungguhnya, ada tiga jenis penyembuhan yaitu, penyembuhan dengan sendirinya yang berarti alamiah dari dalam tahan tubuh, dengan bantuan obat serta dengan bantuan peralatan. Ada kalanya penyembuhan perlu memakai dua jenis tersebut sekaligus.

Kita tentunya telah melihat dan merasakan dampak perkembangan pengobatan alternatif atau yang menggunakan peralatan di Indonesia. Salah satunya, menjamurnya praktek pengobatan akupunktur yang bertujuan meringankan hingga menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Namun, ada baiknya jika Anda mengenal lebih dalam salah satu teknik pengobatan avasin yaitu teknik pengobatan yang mirip dengan akupunktur namun bukan termasuk pengobatan alternatif karena langsung ditangani oleh dokter.

Pada awalnya Terapi Avasin disebut Awaasin Alkay, yang berasal dari bahasa Arab; Awaasin dan Alkay. Awaasin berarti seperangkat instrumen (asal kata “ausun”: instrumen, bentuk jamaknya: “awaasin”), sedangkan Alkay berarti pencapan dengan api. Metode pengobatan alkay sudah dikenal berabad-abad lamanya sejak zaman peradaban Mesir Kuno dan Babilonia, termasuk pada zaman Rasulullah SAW. Metode ini dikenal sebagai Alkay Lama. Pada abad 16 M, para ilmuwan Muslim, di antaranya Ahmad Ibnu Ruman, menyempurnakan metode pengobatan Alkay lama, yakni menggantikan api untuk pemanas instrumen dengan obat-obatan. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Awaasin Alkay. Jejak Alkay Lama yang masih digunakan kedokteran modern saat ini adalah metode Kauterisasi.

Di Indonesia, metode pengobatan Awaasin Alkay pertama kali dikembangkan oleh Ma’had Atthib al Islami di bawah Yayasan Asy Syifa (1959-1966). Pada tahun 1987, Ma’had Atthib al Islami dihidupkan lagi di bawah naungan Yayasan Ibnu Ruman. Pada tahun 2000, dokter-dokter yang tergabung dalam IDAVI (Ikatan Dokter Avasinolog) memperkaya dan memodifikasi metode pengobatan Awaasin Alkay dan menamakan metode pengobatan tersebut Terapi Avasin. Ahlinya disebut Avasinolog. Terapi Avasin merupakan metode pengobatan Awaasin Alkay yang dimodofikasi dalam mengisi ruang kosong metode pengobatan kedokteran biomedik modern, sehingga Terapi Avasin bukan merupakan metode pengobatan alternatif.

“Kalau akupunktur lebih melalui jalur meridian atau titik tengah, misalnya mentotok pada titik syaraf, sedangkan kita prinsipnya lebih ke daerah pusat totok yang lebih luas dari sekedar titik-titik syaraf tadi,” ujar dr Yaya Aria Santosa dari Klinik Mampang Medika yang membuka praktek di Jalan Tegalparang Utara no. 18, Jakarta Selatan.

Terapi Avasin ini, hanya boleh diterapkan oleh dokter yang telah memiliki lisensi sebagai Avasinolog sehingga ketepatan diagnosis dan terapi dapat dipertanggungjawabkan dalam konteks kedokteran biomedik. Untuk mendapatkan lisensi tersebut juga harus melalui privat sekitar 2 tahun dan harus lulus ujian pendidikan khusus avasinologi.

Karena tekniknya berbeda, maka peralatan yang digunakan juga berbeda dan khusus dikeluarkan yayasan Ibnu Ruman tempat dimana metode asal negeri Syria atau sejak zaman Mesir Kuno dan Babilonia ini di sempurnakan. Sehingga, perlatan tersebut tidak akan dijual secara komersil, hanya dokter yang telah lulus menjadi terapis avasin yang dapat menggunakannya.

“Bentuk jarum dan besarnya diameter jarum berbeda-beda, karena setiap penyakit memerlukan perlakuan totok syaraf yang berbeda pula, contohnya jarum yang ujungnya segitiga yang umumnya digunakan untuk percabangan syaraf atau percabangan pembuluh darah,” ungkap dr. Yaya.

Selain itu, menurutnya, teknik menotok pusat syaraf juga berbeda seperti menekan, memijat serta menggelintirkan/memutar tergantung dari jenis penyakit yang diderita si pasien.

Berikut inilah penyakit yang dapat diatasi dengan terapi Avasin:

  • gangguan nyeri (nyeri kepala, nyeri sendi, nyeri otot, nyeri tendon, dan lain-lain),
  • gangguan fungsional sistem organ (degenerative desease seperti darah tinggi, kencing manis, kegemukan, asma, stroke, lemah syahwat, dan sebagainya),
  • gangguan infeksi (commond cold, myosis, tendenitis, TBC, kejang demam, sinusitis, dan sebagainya),
  • gangguan neoplasma (tumor).

Selain therapeutik dan rehabilitatif, terapi avasin juga dapat digunakan sebagai metode preventif dan promotif seperti meningkatkan kebugaran, menahan atau memperlambat proses penuaan, meningkatkan kesuburan, meningkatkan kecerdasan anak, pencegahan stroke dan serangan jantung.

Banyak teori dasar biomedik yang menguatkan efektifitas metode Terapi Avasin ini, sehingga bisa meningkatkan tingkat efektifitas dan efisiensi pengobatan tanpa harus melakukan langkah invasif (Non-Invasive Medical Care) dan dengan efek samping sangat minimal.

Menurut data dari situs http://www.avasinmedicalcenter.com saat ini ada beberapa avasinolog yang berpraktek di berbagai daerah sebagai berikut:

  • dr. Adhirusman, Av – Jakarta – 0811176777
  • dr. Rina, Av – Depok – 08129945111
  • dr. Tati, Av – Depok – 081511401515
  • dr. Jefni, Av – Depok – 081381147735
  • dr. Rusmini, Av – Bogor – 0818105739
  • dr. Neni, Av – Bogor – 081518864294
  • dr. Harry Rayadi, Av – Bandung – 081572724724
  • dr. Muslih, Av – Bandung – 081321229391
  • dr. Raya, Av – Bandung
  • dr. Susi, Av – Bandung – 08122162653
  • dr. Bayu, Av – Kendal, Semarang – 085225016504
  • dr. Sugeng, Av – Demak – 081575137546
  • dr. Adang . Av – Bandung – 0811220843

Referensi :

Keanggotaaan Palestina Di UNESCO

Kanada sangat kecewa oleh keputusan yang diambil Organisasi Pendidikan, Sains dan Kebudayaan PBB (UNESCO) untuk memberi Palestina status anggota penuh. Menyusul jejak AS, negara itu telah memutuskan untuk membekukan sumbangan baru sukarela buat badan PBB itu. Kebijakan itu disampaikan Urusan Luar Negeri Kanada John Baird, Selasa (01-11-2011).

Baird mengatakan dalam keadaan apa pun Kanada tak bisa memberi sumbangan uang lagi untuk menutup setiap kekurangan anggaran UNESCO, yang mungkin muncul akibat keputusannya. Baird mengatakan di dalam satu pernyataan Kanada juga telah memutuskan bahwa saat ini negara tersebut tak mempertimbangkan kemungkinan skema pendanaan baru.

Ia menambahkan Kanada juga sedang mengkaji pilihan lain sebagai tanggapan atas perkembangan tersebut. Ia juga menambahkan upaya sepihak Palestina untuk memperoleh status negara anggota-atau-pengamat di PBB, UNESCO dan organisasi lain internasional tanpa kesepakatan perdamaian lewat perundingan dengan Israel “akhirnya tak membantu”.

“Kanada terikat komitmen pada perdamaian yang menyeluruh, adil dan langgeng di Timur Tengah. Kanada sekali lagi mendesak semua pihak agar melanjutkan pembicaraan perdamaian langsung, tanpa penundaan atau prasyarat, dengan dasar Pernyataan Kuartet 23 September,” tambah Baird.

Kanada memberi sumbangan sebanyak 10 juta dolar Kanada per tahun untuk UNESCO.

Pada Senin, Palestina diterima oleh UNESCO sebagai anggota penuh dalam pemungutan suara di Konferensi Umum Ke-26 organisasi PBB yang memiliki 194 anggota itu –yang dimulai di Paris pada 25 Oktober dan akan berlangsung sampai 10 November.

Pemungutan suara itu membuat UNESCO menjadi badan pertama PBB yang menerima Pemerintah Otonomi Nasional Palestina (PNA) sebagai anggota penuh sejak Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengajukan permohonan resmi ke PBB untuk jadi anggota pada Sidang Majelis Umum PBB, 23 September. Dewan Keamanan PBB telah memutuskan untuk membahas masalah tersebut pada November.

Prancis termasuk di antara mayoritas negara yang mendukung keanggotaan Palestina, tapi Israel serta Amerika Serikat dengan tegas menentang upaya Palestina di UNESCO dan PBB. UNESCO bergantung atas Amerika Serikat untuk memperoleh 22 persen anggaran tahunannya, atau sebanyak 70 juta dolar AS per tahun, demikian laporan yang sebelumnya disiarkan oleh New York Times.

Sumbangan Israel berjumlah sebanyak tiga persen dari anggaran tahunan organisasi tersebut. Konferensi Umum UNESCO itu dihadiri oleh negara anggota dan negara peninjau, organisasi antar-pemerintah serta organisasi non-pemerintah. Masing-masing negara anggota memiliki satu suara, tak peduli ukurannya atau besarnya sumbangannya bagi anggaran organisasi PBB tersebut. (Ajeng Ritzki Pitakasari/Antara/Xinhua-Oana/RoL)

Sumber : Dakwatuna